Bayangin kata yang satu ini pasti terbayang dengan  kata sederhana yang berupa kata milik
seperti itu milik siapa ini milik siapa?
Berkah banget deh kenal sama omsigolok omge, yang ilmunya oke banget dah. Salah satunya ngajarin kita tentang kepemilikan. 

Nah tapi tapi dan tapi ga anak aja dong yang belajar kepemilikan tapi orang tua nya juga belajar kepemilikan
Seinget aku nih banget lah tujuan dari belajar kepemilikan ini.  Anak jadi tahu batas - batas dan menghargai
milik orang lain, juga mempunyai rasa memelihara apa yang jadi miliknya, karena mengerti tentang batas
dan menghargai akhirnya anak terbiasa meminta ijin.
Sedikit berbagi tentang cara belajar kepemilikan ala keluarga kami
1. Biasanya dirumah udah ada kejelasan ini barang milik siapa? Ini ruangan milik siapa? Jadi kalau mau butuh
dengan barang orang lain harus ijin ( bukan pamit = ini penting banget karena pamit dan ijin itu beda konteks)
dan orang yang punya barang atau ruangan setuju punya dia dipinjam
2. Pernah kan kita kasih barang ke anak? Sesungguhnya itu adalah jadi milik anak, tapi pernah kan kita suruh
dia ( anak ) untuk jaga barangnya dengan alasan misal harga mahal ( meskipun mahal itu relatif yaa). Nah 
seharusnya kalau itu jadai punya anak, anak boleh dong diberi kebebasan memperlakukan barang nya
dengan segala cara. Dan kita harusnya pantang ikut campur dalam pengaturan memperlakukan barang anak
Lain lagi misal barang tersebut ketika anak memakainya masih diperlukan pengawasan mungkin  lebih baik
status kepemilikannya pada orang tua.
3. Ini yang juga terpenting siii, pastiin kita sebagai orang tua juga teladanin ke anak, dengan selalu minta ijin 
kalau mau melakukan sesuatu terhadap milik punya anak. Kalau di tolak ? Yah tentunya buat mereka setuju 
meminjamkan barang nya
Nah sebenarnya boleh ga sii kalau yang punya barang ga minjemin ? Boleh aja dong, kan itu HAK yang punya 
Dan ga boleh lah menuntut yang punya harus berbagi
Konsep " harus sharing " kadang jadi semakin membuat anak kesulitan memahami konsep kepemilikan
Dan membuat anak semakin menuntut orang lain untuk mau membagi hak kepemilikannya

Satu yang menjadi catatatan saya tentang kepemilikan dan privasi, terkadang dalam diri nih pingin pasang foto anak di media sosial, apalagi misal pas pose atau apapun yang dipandang oke lah. Lantas main aja upload foto atau video anak. Anak juga punya ruang privasi, kita juga perlu menghargai itu. Sebisa mungkin kita sebagai orang tua juga sii minta ijin kepada anak untuk ruang pub upload foto anak, dan memberi tahu dengan segala kemungkinan apa yang terjadi kalau kita mengupload foto anak ke ruang publik. Sama hal nya ketika kanek minta foto cucunya, biasanya saya ijin sama anak - anak kalau bakal memberikan foto ke kaneknya, kalau misal dia ga OK, saya pilih menghargai hak anak, kalau misal kaneknya kekeh minta biasanya mereka sudah tahu dan akan telp dan bilang sendiri ke Allegra. Terus juga masalah anak baru lahir sudah tayang dan punya media sosial?yang ini saya masih belum bisa ngerasa sii manfaatnya di anaknya, mungkin manfaatnya di orang tuanya yaa, karena sebenarnya kembali lagi bahwa anak punya privasi, dan jangan rusak fitrah privasi anak, Tulisan terakhir ini mungkin beda pemahaman sama yang lain, cuma tulisan di paragraf terakhir ini memang berlaku banget di keluarga kami.